Toko Online Baju Anak Nyaman Kekinian

Dampak Broken Home Bagi Anak yang Perlu Diketahui

International Journal of Applied Research menerbitkan sebuah penelitian yang menjelaskan bahwa broken home adalah kondisi ketika keluarga tidak utuh lagi. Mengutip dari situs resmi Brown University, idealnya keluarga adalah tempat anak tumbuh dan berkembang dengan sehat secara mental dan fisik.

Broken home merupakan kondisi saat keluarga mengalami perpecahan dan terputusnya struktur peran anggota keluarga yang gagal menjalankan kewajiban dari peran mereka. Pengertian broken home juga dapat dilihat dari dua aspek, yaitu broken home karena struktur keluarga tidak utuh dikarenakan perceraian atau salah satu orang tua meninggal dunia.

Ada juga kondisi di mana orang tua tidak bercerai, tapi struktur keluarga tidak utuh karena salah satu orang tua meninggalkan rumah atau tidak memberi kasih sayang lagi dengan anak dan pasangannya. Contohnya, kedua orang tua sering bertengkar sehingga struktur keluarga tidak sehat lagi secara psikologis.

Kondisi perpecahan pada struktur keluarga tentu dapat berdampak buruk bagi perkembangan dan kesehatan mental anak. Broken home dapat menyebabkan anak merasa kehilangan peran penting keluarga di hidupnya, merasa stress, tertekan, hingga merasa dirinya yang menjadi penyebab perpisahan tersebut. 

Berikut dampak broken home pada anak yang perlu kita ketahui :

1. Mengalami Kesedihan yang Berkelanjutan

Perpisahan orang tua tentu menyisakan luka mendalam pada anak. Berdasarkan penelitian World Psychiatry, broken home beresiko mengganggu kesehatan mental anak. Saat anak menyadari adanya perpecahan di keluarganya, tentu akan benar-benar membuatnya merasa sedih, jika kesedihan berkelanjutan bisa mengganggu kesehatan mental anak. Hal ini dikarenakan anak sadar bahwa apa yang sudah dilalui keluarganya akan hancur begitu saja dan kenangan indahnya bersama keluarga tidak dapat terulang kembali.  

2. Menyalahkan Dirinya Sendiri sebagai Penyebab Perpisahan

Karena masalah yang terjadi di keluarganya, anak broken home seringkali merasa bahwa dirinyalah yang menjadi penyebab perpisahan orang tuanya. Padahal, hal ini belum tentu benar dan jika anak terus menyalahkan dirinya akan berdampak buruk dengan kesehatan mentalnya.  

Baca juga: Cara Menahan Emosi di Depan Anak

3. Menjadi Lebih Posesif

dampak broken home 3

Anak dari keluarga broken home cenderung akan menjadi lebih posesif dalam lingkungan pertemanan atau percintaan. Hal ini dikarenakan anak broken home secara emosional haus kasih sayang karena tidak mereka dapatkan dari keluarganya. Selain itu, anak broken home juga cenderung memiliki rasa cemburu yang berlebihan pada orang di sekitarnya.

4. Sulit Percaya dengan Orang Lain

dampak broken home 2

Menurut sebuah penelitian, anak broken home akan sulit percaya dengan orang lain dan selalu merasa bahwa ia sedang dibohongi. Perasaan sulit menaruh kepercayaan pada orang lain ini dapat menyebabkan anak mudah frustasi dan sering berkecil hati saat berhubungan dengan orang lain. Psikolog bernama Carl Pickhardt menjelaskan bahwa anak broken home akan memiliki sikap sinis dan rasa tidak percaya terhadap sebuah hubungan. Kecemasan ini dapat membuat mereka sulit untuk melakukan interaksi sosial yang positif dan terlibat dalam kegiatan apapun yang sifatnya berkelompok. 

5. Kehilangan Kasih Sayang

dampak broken home 1

Dampak broken home juga akan membuat anak merasa kehilangan kasih sayang. Rasa kehilangan yang dialami oleh anak broken home bukanlah kehilangan yang bisa didapat atau dikembalikan seperti semula. Anak broken home akan merasa tidak ada sosok yang dapat menggantikan peran tersebut dan merasa tidak diperhatikan.

6. Tidak Punya Identitas Diri

Dampak broken home yang sudah disebutkan sebelumnya, akan menyebabkan anak tidak punya identitas diri yang kuat. Mental anak broken home cenderung lemah dan ia merasa hidupnya tidak seberuntung orang lain.  Hal inilah yang menyebabkan anak broken home mudah depresi, tidak punya identitas diri yang kuat, dan merasa dirinya tidak berharga.

7. Trauma untuk Menjalin Hubungan dengan Orang Lain

Kondisi keluarga yang tidak utuh juga dapat mempengaruhi hubungan sosial anak dengan lingkungan sekitarnya. Akibat broken home, sebagian anak melepaskan rasa kegelisahan mereka dengan bertindak agresif. Tindakan agresif yang bisa anak lakukan adalah perilaku bullying. Kondisi parah dari dampak broken home pada anak, dapat menyebabkan trauma untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Berdasarkan pengalaman yang tidak baik dalam keluarganya, membuat ia ragu dan takut untuk membangun hubungan atau berkeluarga nantinya.

Baca juga: Mengenali Tahap Tumbuh Kembang Anak Sejak Dini

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shopping cart
There are no products in the cart!
Continue shopping
0
× Tanya Admin?