Toko Online Baju Anak Nyaman Kekinian

Mengenal Kesehatan Mental Pada Anak

Masalah kesehatan mental bisa dialami siapapun, termasuk anak dan remaja. Namun, orang tua kerap tidak sadar bahwa anak memiliki masalah kesehatan mental. Psikolog anak dan remaja Annelia Sari Sani mengatakan, gejala gangguan mental pada anak muncul secara diam-diam. Sulit untuk membedakan antara fluktuasi perilaku anak dengan gangguan mental.

Gangguan masalah kesehatan mental pada anak umumnya bisa terlihat ketika anak sudah bersekolah. Akan tetapi pada kasus tertentu, gangguan masalah kesehatan mental juga bisa terlihat ketika anak masih balita. Secara umum gangguan mental pada anak dibagi dalam 4 kategori, yaitu :

1. Gangguan Perilaku

Gangguan perilaku pada anak adalah suatu kondisi ketika anak sering berperilaku menyimpang dan di luar batas, sehingga berpotensi merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Anak yang memiliki gangguan perilaku sering kali dianggap nakal dan bahkan agresif.

Setiap anak memiliki karakter yang berbeda. Terkadang, anak bisa tampak baik dan menggemaskan. Namun, ada kalanya anak bisa terlihat nakal dan mengganggu. Akan tetapi, Bunda dan Ayah perlu waspada jika Si Kecil sering melakukan kenakalan yang jauh lebih parah dan berbeda dari anak-anak lain yang sebaya.

Seorang anak bisa dikatakan mengalami gangguan perilaku jika anak memiliki pola tingkah laku yang menyimpang dan berulang atau menetap selama lebih dari 6 bulan. Gangguan perilaku bisa membuat anak kecanduan terhadap hal tertentu, misalnya bermain game. Pada sebagian kasus, anak yang memiliki gangguan perilaku bahkan bisa berbuat asusila, seperti pelecehan seksual atau melakukan seks bebas dengan teman sebayanya.

Ada Beberapa Jenis Gangguan Perilaku yang Cukup Sering Terjadi pada Anak, Diantaranya :

  • Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)
    ADHD merupakan gangguan perilaku yang paling sering ditemui pada anak-anak. ADHD ditandai dengan gejala sulit fokus dalam mengerjakan sesuatu, ceroboh, banyak bicara dan tidak bisa diam (hiperaktif). Selain itu, anak dengan ADHD juga sering kali berbuat usil, jahil atau mengganggu aktivitas yang dilakukan oleh orang lain.
  • Autisme
    Autisme merupakan gangguan perilaku pada anak yang membuat anak sulit berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Anak yang memiliki gangguan autisme sering kali mengalami perubahan atau perilaku yang berbeda dari anak-anak lain. Contoh : marah, menangis atau tertawa tanpa alasan yang jelas, bahasa atau gerakan tubuh yang cenderung kaku, cenderung bertindak atau melakukan gerakan tertentu secara berulang.
  • Oppositional defiant disorder (ODD)
    ODD biasanya mulai muncul pada anak yang berusia 8-12 tahun. Selain mudah marah, anak dengan ODD biasanya berperilaku menentang atau tidak patuh pada aturan, baik di rumah maupun luar rumah. Anak juga sering kali sengaja mengganggu orang lain bahkan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang diperbuatnya. Penderita ODD juga memiliki sifat pendendam dan sering kali melakukan balas dendamnya pada orang lain.
  • Conduct disorder (CD)
    Conduct disorder adalah gangguan perilaku dan emosi serius yang membuat anak menunjukkan perilaku kekerasan, suka merusak benda tertentu, dan cenderung sulit mengikuti aturan di rumah maupun luar rumah.

    Anak yang memiliki gangguan CD biasanya gemar berbohong dan menipu, bahkan tidak segan melakukan perbuatan yang melanggar hukum, seperti vandalisme, berkelahi, atau melukai orang lain, juga mungkin suka menyiksa hewan.

2. Gangguan Emosional-Sosial

kesehatan mental pada anak 3

Children’s Therapy and Family Resource Centre menjelaskan bahwa perkembangan emosional anak adalah salah satu tahap tumbuh kembang anak untuk berinteraksi dengan orang lain dan mengendalikan emosi sendiri. Menjalin hubungan sosial dengan teman dan lingkungan juga sebuah proses untuk belajar berkomunikasi, berbagi, dan berinteraksi.

Mengutip dari Scan of North Virginia, perkembangan sosial anak adalah proses belajar dalam berinteraksi dengan orang lain. Perkembangan sosial pada anak berhubungan dengan pertemanan, cara berinteraksi, dan menangani konflik dengan teman.

Mengapa perkembangan sosial penting? Alasannya, ketika anak berinteraksi dengan orang lain, perkembangan yang lain juga ikut terbentuk. Sebagai contoh, ketika bersosialisasi, anak akan belajar berinteraksi sekaligus mengasah kemampuan motoriknya. Kemampuan sosial dan emosional anak yang baik, berpengaruh pada kecerdasannya ketika dewasa nanti.

Semakin bertambahnya usia anak, kemampuan emosional anak semakin bertambah dan setiap anak memiliki tahapan perkembangan emosional yang berbeda.

Ada 4 macam gangguan emosi anak antara lain :

  • Ketidakmampuan untuk menunjukkan tingkah laku yang tepat dalam situasi tertentu.
  • Ketidakmampuan untuk membangun hubungan pertemanan dengan teman sebaya.
  • Mudah merasa depresi atau cemas hanya karena alasan-alasan kecil.
  • Memiliki gangguan gejala tertentu saat menghadapi masalah. Misal sakit perut jika disuruh maju ke depan kelas.

Baca juga: Cara Menahan Emosi di Depan Anak

3. Gangguan Perkembangan Belajar

kesehatan mental pada anak 2

Gangguan belajar anak bisa bermacam-macam, mulai dari kesulitan atau keterlambatan dalam menulis, membaca, berhitung, atau kemampuan motorik anak usia dini. Jangan langsung menuduh anak malas, apalagi bodoh. Tidak semua anak dapat dengan mudah menerima pelajaran yang anak dapatkan di sekolah. Anak yang mengalami kesulitan belajar, bukan berarti si anak tidak cerdas.

Gangguan belajar anak adalah masalah yang mempengaruhi kemampuan otak untuk menerima, mengolah, menganalisis, atau menyimpan informasi, sehingga memperlambat anak dalam perkembangan akademik. Namun sebagai orang tua, Anda jangan kecewa dulu. Faktanya anak-anak yang memiliki gangguan ini cenderung lebih cerdas dan pintar ketimbang anak-anak yang normal.

Berikut jenis-jenis kesehatan mental pada anak dari segi gangguan belajar pada anak :

  • Gangguan belajar dalam membaca (disleksia)
  • Gangguan kemampuan menulis (disgrafia)
  • Gangguan kemampuan menghitung (diskalkulia)
  • Gangguan kemampuan motorik (dispraksia)

4. Gangguan Makan

kesehatan mental pada anak 1

Sebuah penelitian yang dilakukan US National Library of Medicine, National Institute of Health, mengatakan bahwa sekitar 25% bayi yang sedang dalam masa pertumbuhan biasanya mengalami masalah gangguan makan. Dan sekitar 35% dari anak-anak tersebut mengalami gangguan perkembangan saraf.

Salah satu masalah yang paling umum adalah ketidakmampuan tubuh anak menoleransi makanan tertentu. Seorang anak dengan gangguan makan ini bisa mengalami perkembangan yang buruk, kekurangan gizi, dan gangguan psikologis. Ketika anak menolak mengonsumsi sebagian makanan, anak menjadi kesulitan menelan, mengunyah atau menghisap, muntah, hingga mengamuk saat makan.

Mengingat risiko yang mungkin timbul akibat gangguan makan, sebaiknya gangguan makan pada anak dikenali sejak dini. Salah satu gangguan makan yang mungkin muncul pada anak adalah Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID). ARFID berbeda dengan anak yang pemilih terhadap makanan. Kebiasaan anak yang picky pada makanan biasanya akan berkurang atau hilang seiring pertumbuhannya. Misalnya saat balita, anak sama sekali tak mau makan bayam. Namun saat memasuki usia pubertas, ia mulai bisa memakan bayam dan tak lagi membencinya.

Baca juga: Cara Mengajarkan Konsekuensi Kepada Anak, Tips Daily Parenting

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Shopping cart
There are no products in the cart!
Continue shopping
0
× Tanya Admin?